HADITS KE 33 KEUTAMAAN BULAN SYA'BAN

Keutamaan Bulan Sya’ban

٢٤٣٤ - حدَّثنا عبدُ الله بنُ مسلمةَ، عن مالكٍ، عن أبي النضرِ مولى عمرَ ابنِ عُبيد الله، عن أبي سلمةَ بن عبدِ الرحمن عن عائشة زوجِ النبيَّ -ﷺ-، أنها قالت: كان رسولُ الله -ﷺ- يصُومُ حتى نقولَ: لا يُفْطِرُ، ويُفْطِرُ حتى نقولَ: لا يصومُ، وما رأيتُ رسولَ الله -ﷺ- استكملَ صيامَ شهرٍ قطُّ إلا رمضانَ، وما رأيتُه في شهرٍ أكثر صيامًا منه في شعبان (رواه أبو داود)

Artinya 

Sayyidah Aisyah berkata:

Rasulullah ﷺ pernah berpuasa sampai kami mengatakan: “Beliau tidak akan berbuka.” Dan beliau pernah berbuka sampai kami mengatakan: “Beliau tidak akan berpuasa.”
Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau paling banyak berpuasa dalam satu bulan melebihi bulan Sya’ban. HR. Abu Daud 2434

Sanad 

Hadits ini diriwayatkan melalui jalur:

  • Abdullah bin Maslamah

  • dari Imam Malik

  • dari Abu an-Nadhr, maula Umar bin Ubaidillah

  • dari Abu Salamah bin Abdurrahman

  • dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha

Status Hadits

Hadits di atas tentang banyaknya puasa Nabi ﷺ di bulan Sya’ban memiliki banyak jalur periwayatan shahih, diriwayatkan kitab-kitab besar seperti Bukhari dan Muslim, sehingga kedudukannya sangat kuat dan terpercaya dalam pembahasan keutamaan Sya’ban.

Penjelasan Hadits

Hadits di atas menjelaskan keutamaan bulan Sya’ban. Bulan Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam penanggalan Hijriah, terletak di antara bulan Rajab (ke-7) dan Ramadhan (ke-9). Secara bahasa Arab, “Sya’ban” (شعبان) berasal dari kata ta-sya‘aba yang bermakna bercabang, berpencar, atau menyebar. Disebut Sya’ban karena pada masa Arab dahulu kabilah-kabilah berpencar untuk mencari air, mencari penghidupan, dan melanjutkan peperangan setelah berhenti pada bulan Rajab yang merupakan salah satu bulan haram. 

Sya’ban termasuk bulan mulia, meski tidak termasuk al-asyhur al-hurum (empat bulan haram). Keistimewaannya terutama karena:

  1. Bulan persiapan menuju Ramadhan

  2. Bulan Nabi ﷺ banyak berpuasa

  3. Bulan terangkatnya amal (berdasarkan hadis-hadis sahih hasan)

  4. Bulan yang sering dilalaikan manusia

Dari hadits Sayyidah Aisyah r.a. yang kita bahas, diketahui bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, namun beliau paling banyak berpuasa sunnah pada bulan Sya’ban. Hal ini menunjukkan bahwa Sya’ban adalah bulan untuk memperbanyak puasa sunnah, bukan bulan yang mewajibkan puasa sebulan penuh.

Bulan Sya’ban sangat penting bagi seorang muslim karena pada bulan ini seseorang dapat melatih diri sebelum Ramadhan, melembutkan hati, memperbaiki rutinitas ibadah, memperkuat niat, serta melakukan “pemanasan” fisik dan spiritual. Jika Ramadhan adalah lomba besar, maka Sya’ban adalah masa latihan serius sebelum lomba tersebut.

Kejadian Penting

Dalam kitabnya “Madza Fii Sya’ban” Abuya menjelaskan bahwa kemuliaan suatu waktu pada hakikatnya berkaitan dengan peristiwa-peristiwa agung yang Allah tetapkan terjadi di dalamnya. Pada asalnya seluruh waktu itu sama, namun ia menjadi mulia karena kejadian-kejadian besar yang mengandung nilai iman dan ibrah. Semakin agung peristiwa yang terjadi pada suatu waktu, semakin tinggi pula derajat dan kemuliaan waktu tersebut. Demikian pula, semakin kuat hubungan kaum muslimin dengan peristiwa itu, mereka mengingatnya, mengambil pelajaran, dan terpengaruh olehnya, semakin besar pula penghormatan mereka kepada waktu terjadinya peristiwa itu. 

Berikut ini beberapa kejadian penting yang melatar-belakangi keutamaan bulan ini:

  1. Pemindahan Arah kiblat

Perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah. Kanjeng Nabi ﷺ sangat berharap perpindahan kiblat itu, sering menengadahkan wajah ke langit menunggu wahyu, hingga Allah mengabulkan harapannya dengan turunnya ayat Al-Baqarah:144. 

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَعْرَ الْمَسْجِدِ الحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَه

Hal ini merupakan wujud janji Allah bahwa Dia akan memberikan kepada Nabi-Nya hingga beliau ridha, QS. Adh-Dhuha:5

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى

Sebagaimana ditegaskan juga oleh ucapan Sayyidah Aisyah r.a. bahwa Allah seakan-akan selalu mempercepat apa yang beliau inginkan, tentu hanya pada hal-hal yang diridhai Allah. Disebutkan pula dalam riwayat Abu Hatim bahwa kaum muslimin shalat menghadap Baitul Maqdis selama kurang lebih tujuh belas bulan tiga hari, lalu pada pertengahan Sya’ban turun perintah untuk menghadap Ka’bah. Semua ini menunjukkan bahwa Sya’ban mengandung peristiwa agung dan memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam.

  1. Laporan Amal

Salah satu keistimewaan bulan Sya’ban adalah diangkatnya (dipresentasikannya) amal perbuatan manusia kepada Allah dalam bentuk pengangkatan besar dan umum. Hal ini berdasarkan hadits Usamah bin Zaid r.a. yang bertanya mengapa Nabi ﷺ paling banyak berpuasa di bulan Sya’ban, lalu beliau menjawab bahwa Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia di antara Rajab dan Ramadhan, dan pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Tuhan semesta alam, dan beliau suka ketika amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa. Pengangkatan amal tidak hanya terjadi di Sya’ban saja, tetapi juga pada waktu-waktu lain sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis lain; perbedaan waktu tersebut tidak saling bertentangan karena setiap jenis pengangkatan memiliki hikmah dan tujuan yang berbeda. 

Laporan ini memiliki empat macam:

  1. Langsung, saat itu juga. Ibarat teknologi sekarang adalah fitur “live” Yaitu pada waktu dhuhur. 

Hadits Abdullah bin as-Saib r.a.:

«أنَّ رَسولَ اللَّه ﷺ كانَ يُصَلِّي أَرْبَعًا بَعْدَ أنْ تَزُولَ الشَّمْسُ قَبْلَ الظُّهْرِ، وقالَ: إنَّهَا سَاعَةٌ تُفْتَحُ فِيهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ، فَأُحِبُّ أنْ يَصْعَدَ لِي فِيهَا عَمَلٌ صَالِحٌ»

Dan hadis Abu Ayyub al-Ansari r.a.:

«أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ لَيْسَ فِيهِنَّ تَسْلِيمٌ، يُفْتَحُ لَهُنَّ أَبْوَابُ السَّمَاءِ»

serta riwayat lain:

«إذا زَالَتِ الشَّمْسُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، فَلَا يُغْلَقُ مِنْهَا بَابٌ حَتَّى تُصَلَّى الظُّهْرُ، فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ لِي فِي تِلْكَ السَّاعَةِ خَيْرٌ»

Maksudnya: ketika matahari tergelincir (masuk waktu zuhur), pintu-pintu langit dibuka, amal-amal diangkat, dan doa sangat mustajab. Karena itu ulama—seperti Syaikh Abdullah Sirajuddin—menganjurkan kaum muslimin untuk menjaga sunnah qabliyah zuhur empat rakaat, memperbanyak doa pada saat tersebut, dan tidak menyia-nyiakannya dengan kesibukan dunia.

  1. Harian. Setiap subuh dan Ashar

Amal manusia dilaporkan oleh para malaikat setiap siang dan malam. Amal siang diangkat pada awal malam berikutnya, dan amal malam diangkat pada awal siang berikutnya. Pergantian malaikat terjadi pada waktu Subuh dan Ashar. Karena itu, kedua waktu salat ini sangat istimewa: keadaan kita saat Subuh dan Ashar sedang “dilaporkan”. Pesannya: jagalah ibadah secara konsisten, karena amal kita terus dicatat dan diangkat.


Disebutkan dalam hadits Muttafaq Alaih


«يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُولُونَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ».

  1. Mingguan. Yaitu Setiap hari senin dan kamis

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:

«تُعرَضُ الأعمال يوم الاثنين والخميس، فَأُحبّ أن يُعرضَ عملي وأنا صائم))، رواه الترمذي وقال: حسن غريب.

“Amal-amal diperlihatkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka ketika amalanku diperlihatkan aku dalam keadaan berpuasa.”

  1. Grand. atau tahunan. dan itu terjadi pada pertengahan bulan Sya’ban. 

Beliau bersabda:

ذاك شَهرٌ يَغفل الناس عنه بين رجب ورمضان، وهو شهر تُرفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، وَأُحبُّ أن يُرفعَ عملى وأنا صائم»

“Itu adalah bulan yang banyak dilalaikan orang-orang, berada di antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan ketika amal-amal diangkat kepada Tuhan seluruh alam, dan aku senang bila amalanku diangkat sementara aku dalam keadaan berpuasa.” HR. An-Nasa’i.

  1. Penentuan Usia

Bulan Sya‘ban adalah bulan penampakan penulisan takdir tahunan (khususnya ajal), dan kanjeng Nabi memilih memperbanyak puasa agar berada pada keadaan terbaik saat ajal itu ditetapkan. 

Hadits Sayyidah Aisyah Ra “Sesungguhnya Nabi ﷺ berpuasa (banyak) pada bulan Sya‘ban seluruhnya.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, bulan apakah yang paling engkau cintai untuk berpuasa?” Beliau menjawab:

«إنَّ اللّٰه يكتب فيه على كُلِّ نفس مَيّتةٍ تلك السَّنة، فأحب أن يأتيني أجلي وأنا صائم»

“Sesungguhnya Allah menetapkan pada bulan ini setiap jiwa yang akan meninggal pada tahun tersebut; karena itu aku suka bila ajalku datang dalam keadaan aku sedang berpuasa.” HR. Abu Ya’la 


Oleh sebab itu kemudian para Ulama mengawal masyarakat untuk menghidupkan malam nishfu sya’ban dengan harapan andaikan namanya tercatat wafat tahun itu, bisa diupdate agar tidak wafat tahun itu. Hal ini berdasarkan pada bocoran dari kanjeng Nabi bahwa doa bisa mengubah takdir. 

 لا يَرُدُّ القضاءَ إلّا الدُّعاءُ

“Tidak ada yang dapat menolak takdir (ketetapan) selain doa.” HR. Tirmidzi 2139

  1. Turunnya Ayat Shalawat

Salah satu keistimewaan bulan Sya’ban adalah turunnya perintah dari Allah untuk bershalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ. Ayat yang dimaksud adalah firman Allah (QS. Al-Ahzab: 56):

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

Para ulama seperti Ibn Abi al-Sayf, al-Qasthalani, dan Ibn Hajar menyebutkan bahwa ayat ini turun pada bulan Sya’ban, sehingga sebagian ulama menyebutnya sebagai “bulan selawat atas Nabi”. Maksudnya, di bulan ini umat Islam dianjurkan memperbanyak shalawat karena pada bulan inilah Allah memuliakan Kanjeng Nabi ﷺ dengan perintah agung tersebut. Selain itu, penyebutan kapan turunnya ayat (tahun kedua hijrah atau malam Isra’ Mi’raj) menunjukkan perhatian para ulama pada sejarah turunnya perintah shalawat, agar umat semakin terhubung dengan Kanjeng Nabi ﷺ dan memperbanyak shalawat sebagai bentuk cinta dan ketaatan.

والله يتولى الجميع برعايته



Komentar

Postingan populer dari blog ini

HADITS KE 11 SEBAIK-BAIK KALIAN ADALAH YANG PALING BAIK AKHLAKNYA

PRINSIP RIZQI

Hadits Kedua Puluh Tujuh : Doa, Senjata Orang Beriman