• RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin

Minggu, 16 April 2017

SEDEKAH TERBAIK



Dalam berbagai kesempatan, Rosululloh senantiasa memberikan pengarahan kepada para sahabatnya. Dan pengarahan-pengarahan beliau terbilang simple, sederhana namun penuh makna. Sehingga tak jarang hal itu membuat banyak para sahabat mampu menghafal semua apa yang disampaikan oleh beliau. Itulah makna dari jawamiul kalim yang diberikan Allah secara khusus kepada beliau.

Diantara pengarahan beliau adalah yang berkaitan dengan sedekah. Sedekah adalah perbuatan baik.  Siapapun dianjurkan untuk melakukannya. Bukan hanya kepada orang kaya, orang-orang kurang pun diberikan kesempatan untuk meraih pahala yang terkandung di dalamnya. Bukan banyaknya, namun yang menjadi penilaian Allah adalah usaha seseorang untuk mengerjakannnya. Karena itulah kita pernah mendengar Rosululloh SAW mengunggulkan 1 dirham lebih tinggi dari bersedekah 100.000 dirham (HR. An-Nasa’i), karena yang bersedekah 1 dirham hanya mempunyai 2 dirham sehingga sedekahnya terhitung 50 % dari seluh hartanya, sedangkan yang 100. 000 dirham prosentasenya kurang dari itu. Semua itu karena Allah melihat usaha pelaku. Nilai pahala seseorang adalah tergantung dari beratnya usaha. Sebagaimana  yang telah beliau sabdakan kepada Sayyidah Aisyah RA sewaktu berumroh “Pahalamu sesuai dengan rasa capekmu

Namun tahukah anda, bahwa dalam bersedekah juga tidak sama keutamaannya. Sekalipun sama-sama baik, namun tingkatan nilai kebaikan itu sendiri ternyata ada. Seperti yang disabdakan Rosululloh di bawah ini.
Rosululloh SAW bersabda:
ﺧَﻴْﺮُ اﻟﺼَّﺪَﻗَﺔِ ﻋَﻦْ ﻇَﻬْﺮِ ﻏِﻨًﻰ, ﻭَاﺑْﺪَﺃْ ﺑِﻤَﻦْ ﺗَﻌُﻮْﻝ
“Sedekah terbaik adalah sedekah di luar kebutuhan, dan mulailah dari orang yang wajib kamu tanggung” (HR. Bukhori)

Hadits ini memberikan beberapa makna, diantaranya adalah:
1.       Dalam sedekah terdapat hirarki pahala. Nominalnya bisa jadi sama namun pahalanya tentu berbeda. Maka sebaiknya anda memilih amal yang terbaik sesuai dengan kondisi anda.
s
2.       Sedekah terbaik adalah sedekah di luar kebutuhan. Artinya, ketika anda telah bersedekah, anda  masih mempunyai sisa yang cukup untuk di pakai memenuhi kebutuhan anda. Inilah yang disebut dengan makna Ghinal Mall, yakni kelebihan harta.

3.       Atau, bisa bermakna sedekah terbaik adalah sedekah yang dilakukan secara suka rela (legowo. Jawa red) yakni, sedekah yang dilakukan tanpa ada unsur paksaan dari siapapun, alias ikhlas hati, meskipun dalam melakukannya butuh perjuangan tingkat tinggi, sekalipun setelah anda bersedekah tidak ada sedikitpun yang tersisa dikantong, asal hati ikhlas, legowo, sukarela, maka nilai sedekah anda adalah terbaik. Inilah yang dimaksud dengan pengertian Ghinan Nafsi.

4.       Sedekah kepada siapapun boleh saja, namun yang terbaik adalah sedekah dimulai dari orang terdekat anda, yaitu orang yang menjadi tanggungan anda, seperti anak, istri dan kerabat, baru setelah itu kepada orang lain. Telitilah orang-orang yang menjadi tanggungan anda, penuhilah kebutuhan mereka, jangan sampai mereka kekurangan, dan jika masih ada sisa setelah itu, berikanlah kepada orang lain. Jangan menjadi orang tertipu, biar dikira sebagai ahli sedekah, orang lain kenyang karena hartanya namun keluarganya sendiri masih kelaparan. Meskipun hal itu tidak dilarang secara mutlak, namun jika berbicara prioritas, maka itu sangat buruk. Kecuali jika keluarganya memang berlapang hati dan rela untuk berbagi kepada orang lain yang lebih membutuhkan, maka sungguh itu keluarga yang sangat jempol dan perlu menjadi contoh.
 
5.       Jika anda mempunyai harta yang lebih, janganlah pelit. Berikanlah lebihan hartamu kepada orang lain, jangan di pakai sendiri.
Jadi misal anda punya 2 motor misalnya, berikanlah satu kepada orang lain yang sedang butuh. Atau kepada pondok, atau kepada organisasi yang bisa menjadikan hartamu berguna secara maksimal.

6.       Hadits ini mengajarkan kepada kita semua agar menjadi seorang dermawan dan peduli kepada orang lain. Karena manusia itu hidup bersosial. Satu sama lain saling membutuhkan dan saling melengkapi. Sungguh indah hadits ini.

Mental suka berbagi ini bukan hanya sekedar anjuran biasa, namun sangat. Buktinya Rosululloh pernah menyabdakan bahwa orang pelit itu akan jauh dari siapapun,  jauh dari Allah dan manusia, dan justru dekat dengan setan dan neraka. Artinya, fitrah normalnya manusia tidak suka dengan mental kikir. Kendatipun demikian, ternyata dalam faktanya masih banyak orang-orang yang lebih suka memnetingkan diri tanpa menoleh ke tetangga se inchi pun.

Jadi, Jangan sekali-kali menjadi orang pelit. Orang pelit itu bukan hanya di benci orang, bahkan hewan pun tidak menyukaiya.  Selain itu hadits tadi mengisyaratan banyaknya hak yang tidak dipenuhinya, sehingga ia mudah masuk neraka. Itulah peran setan yang memang sangat menuai keberhasilan. Semoga kita dapat menghindarinya.

Selain di atas, masih ada hadits yang senada, juga tentang sedekah terbaik yang disabdakan Rosululloh secara simple dan penuh makna. Diantaranya adalah
(خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا أَبْقَتْ غِنًى (الطبراني)
Yang artinya : “Sedekah terbaik adalah yang bisa menjadikan orang lain kaya” (HR. At-Thobaroni). Pemberian terbaik adalah pemberian yang bisa menghapus kemiskinan dan mengangkat ekonomi orang lain. Bukan asal bagi-bagi duit yang setelah mendapatkannya mereka masih tetap menjadi peminta.

Sedekah mesin jahit akan lebih baik dari pada sedekah 1 juta, meskipun nilai sama, karena bisa menghasilkan nilai berbeda. Dengan sedekahmesin jahit, orang akan menggunakannya untuk membuat usaha, menghidupkan dan mengembangkan usahanya itu. Sehingga dia tidak perlu bantuan orang lain lagi, bahkan dia sendiri yang akan bisa membantu. Itulah sedekah efektif, sedekah yang bisa mengkayakan orang lain. Sedekah yang sesuai dengan maksudnya. Berbeda dengan sedekah satu juta, yang hanya di pakai kebutuhan sehari hari. Paling lama sebulan pun akan ludes dan memohon uluran tangan orang lain lagi. Inilah perbedaannya. Sedekah efektif menjadikan orang lain hidup bertahun-tahun sementara sedekah tanpa pandang hanya bisa bertahan satu bulan. Sayyidina Umar sendiri sewaktu menjadi Khalifah telah memerintahkan kepada rakyatnya:   اِذَا أَعْطَيْتُمْ فَأغْنُوْا  “Jika kalian ingin berbagi, maka bagilah sesuatu yang membuat orang lain kaya”.  Inti sedekah adalah bisa memenuhi kebutuhan orang lain. Maka semakin efektif sebuah sedekah, semakin tinggi pula pahalanya.

Maka, mulai sekarang hati-hatilah dalam memberi. Bisa jadi yang kita beri adalah para peminta yang itu menjadi profesinya. Jika anda mengetahuinya, maka sedekah anda telah ikut andil dalam  membuat dosa, karena pemberian anda menjadikan mereka tetap eksis. Padahal meminta adalah perbuatan melecehkan diri sendiri dan itu di larang dalam Islam.
Ironinya, Profesi “ngemis” saat ini menjadi cukup banyak diminati, terlebih di tempat-tempat umum, mengingat penghasilan yang di dapat cukup banyak. Bisa jadi para gembel di jalanan itu rumahnya megah dan mobilnya kinclong, jauh lebih kaya dibanding dengan anda yang menyantuninya.

Alhasil, Hadist di atas menganjurkan kita untuk bersedekah dan berbagi. Namun demikian tidaklah  mudah bagi seseorang untuk melakukannya. Banyak sekali hambatan dan rintangannya. Justru yang terjadi adalah semakin banyak kita jumpai mereka yang menumpuk harta, sementara di kanan-kirinya terdapat orang yang sarapan di sore hari. Nah, bagi orang yang punya yang sedang ditimpa penyakit demikian, berikut bebrapa hadits yang sekiranya bisa memotifasi diri:
1.       Harta sedekah tidak akan pernah mengurangi harta.  
Rosululloh bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةُ مِنْ مَالٍ (رواه مسلم)
“Sedekahmu tidak mengurangi hartamu sedikitpun” (HR. Muslim)
jika sedikitpun sedekah mengurangi harta, maka berarti sedekah justru menambah kekayaan.

2.       Pahala akhirat itu prioritas, karena meski tidak terlihat namun pasti lebih banyak.
Contohnya adalah hadits ketika ada seseorang yang sedang menjenguk saudaranya yang sakit, pada saat ia berangkat, ada malaikat yang berkumandang mendoakan: semoga hidupmu indah, perjalanmu menyenangkan dan mendapatkana tempat yang tinggi di surga. (Hadits). Doa malaikat itu ia dapatkan semata-mata karena pengorbanannya berkunjung. Ia harus merelakan waktunya, tersita pekerjaannya, terbebani biaya kendaraan dan juga harus bersabar membawa bingkisan yang menyenangkan kepada orang yang dikunjunginya.

3.       Sedekah itu tidak perlu menunggu kaya lebih dulu.
seseorang yang dia sendiri masih kurang, namun ia berusaha untuk berbagi dengan orang lain, maka ia akan dihitung sebagai sedekah terbaik. Rosululloh bersabda:
أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ جُهْدٌ مِنْ مُقِلٍّ
Bahwa: “Sedekah yang paling utama adalah sedekah dari hasil jerih payah” (HR. Abu Daud)
Dan apa yang dilakukannya ini termasuk dalam tingkat maqom yang umumnya orang sulit untuk mendudukinya. Dan sudah maklum, bahwa setiap muslim hanya berada pada dua tingkatan, yaitu Hal (umum) dan Maqom (khusus)
المُسْلِمُ بَيْنَ حَالِه وَمَقَامِه
                       
4.       Sedekah tidak akan menjadikanmu miskin.
Karena kaya dan miskin sudah menjadi catatan dari Allah (QS. Al Baqoroh 345), namun perlu di ingat, bahwa tanda seseorang yang bakat untuk menjadi orang kaya adalah ia gemar bersedekah, seperti keterangan hadits di atas.

5.       Jika anda mempunyai harta berlebih namun tidak mau berbagi, tenang Allah akan membagikan hartamu secara paksa.
Apa maksudnya? orang pelit biasanya hartanya keluar karena musibah, bisa jadi di curi, dirampok, terbakar, atau kesehatannya memburuk hingga ludes tidak berharta. Itulah gambaran Allah kalau lagi memaksa. Allah Ta’ala berfirman:
)وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ(
“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. [QS. Al-Baqara 195]

Jika sudah demikian, maka jangalah kalian menyalahkan kecuali dirimu sendiri. Apa yang kamu dapatkan adalah hasil dari perbuatannmu. Allah berfirman:
)وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ(
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. [QS. Ash-Shura 30]

6.       Sedekah itu berat, setannya saja ada 70, jika ia berhasil memeranginya masih ada 1 gembong setan lagi yaitu Ummus Syaithon. Oleh sebab itulah, tidak heran jika pahala sedekah sangat besar, sedekah satu akan dibalas tujuh, meningkat menjadi 700 dan sampai menjadi tidak terhitung.

7.       Tauladan kita, tidak pernah menyimpan harta untuk keperluan esok hari.
Imam Ghozali dalam Ihya’nya mengutip sebuah hadits tentang ini dari Ibnu umar, bahwa Rosululloh SAW bersabda:
وَلَا أَخْبَأُ رِزْقًا لِغَد
“Aku tidak penah menyimpan harta untuk keperluan esok hari”.

Suatu ketika ada seseorang yang minta kepada Rosululloh, dan saat itu beliau sadang tidak punya, maka beliau menjanjikan di lain hari. Namun demikian ada seorang sahabat yang memaklumkannya dan berkata, “wahai Rosululloh, (tidak perlu lah repot menjanjikannya di lain waktu) wong saat ini memang anda sedang tidak punya yang ia minta”. Mendengar celetukan sahabat tadi, wajah mulia Rosululloh seketika menjadi merah padam. Yang mengartikan Rosululloh tidak setuju dengan celetukan sahabatnya.

Memang Rosululloh orang paling murah hati. Tidak suka tidak berbagi. Ketika di minta pasti memberi. Maka, saat beliau mendapati seorang badui yang ketika di minta sesuatu, dengan senang hati ia memberikan semua, dan berkata: ya semua lah ya Rosul, masak cuma sebagian!, Rosululloh menimpali dengan gembira: Ya, begitulah aku juga diperintahkan.

Beliau adalah tauladan, tawakkal dan yaqinnya level tertinggi. Maka sebisanya kita mengikuti beliau. Dengan tidak resah dalam berbagi. Tidak perlu ada perasaan khawatir tidak makan di esok hari. Lihatlah Allah, contohlah Rosululloh! pasti beruntung.                       

Para sahabat adalah orang yang paling bisa mencontoh sang Tauladan. Dalam kesehariannya, kehidupan mereka sangat indah dan damai lantaran mereka mau berbagi satu dengan lainnya, bahkan sampi pada tingkat mengalah demi orang lain, padahal dirinya sendiri akut membutuhkannya. Itulah yang disebut Istar (memberikan semuanya; mengalah), yaitu tingkatan tertinggi setelah jud (memberikan sedikit) dan sakho’ (memberikan lebih banyak).
                       
Semoga hadits-hadits di atas menjadikan kita termotivasi untuk lebih bisa berbagi. Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah. Diberikan rizki yang luas, dan diberikan kelapangan hati yang suka barbagi. Diberikan hati yang lunak sehingga menjadi orang beruntung, yang kelak dikumpukan bersama orang yang paling beruntung, Yaitu Rosululloh SAW.

Wallahu Yatawallal Jamii’ Biri’ayatih
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar