[39] KEUTAMAAN BERSIWAK



 KEUTAMAAN BERSIWAK

(Sunnah yang Nyaris Diwajibkan Rasulullah ﷺ atas Umatnya)


حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ؛ قَالَ: «لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ (وَفِي حَدِيثِ زُهَيْرٍ: عَلَى أُمَّتِي) لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ» رواه مسلم

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

"Seandainya aku tidak khawatir memberatkan kaum mukminin (dalam riwayat Zuhair disebutkan 'umatku') niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali hendak melaksanakan shalat." 

HR. Muslim 252

Status Hadits

Hadits ini shahih dan termasuk muttafaq 'alaih, yaitu diriwayatkan oleh dua imam hadits terbesar.

Imam Muslim meriwayatkannya dalam Shahih Muslim nomor 252, sedangkan Imam Bukhari meriwayatkannya dalam Shahih Bukhari nomor 887, kemudian mengulangnya secara ringkas pada nomor 7240.

Riwayat Imam Bukhari melalui jalur Imam Malik dari Abu Zinad, sedangkan riwayat Imam Muslim melalui jalur Sufyan bin Uyainah dari Abu Zinad. Meskipun jalur keduanya berbeda, keduanya bertemu pada guru yang sama sehingga saling menguatkan.

Karena disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, hadits ini termasuk hadits dengan kedudukan paling tinggi dalam ilmu hadits dan menjadi hujjah yang sangat kuat.

Sanad 

Imam Muslim menerima hadits ini dari tiga orang gurunya sekaligus, yaitu Qutaibah bin Sa'id, 'Amr an-Naqid, dan Zuhair bin Harb. Cara seperti ini memang sering digunakan oleh Imam Muslim untuk menunjukkan bahwa satu hadits datang melalui beberapa jalur yang saling menguatkan sekaligus menjaga ketepatan lafalnya.

Dari ketiga guru tersebut, hadits ini diterima dari Sufyan bin Uyainah, seorang imam besar dalam bidang hadits yang berasal dari Kufah kemudian menetap di Makkah. Beliau dikenal memiliki hafalan yang sangat kuat dan merupakan salah satu guru utama Imam Syafi'i.

Sufyan meriwayatkannya dari Abu Zinad, yaitu Abdullah bin Dzakwan, seorang ulama Madinah yang terkenal sebagai ahli fikih sekaligus ahli hadits dan dinilai tsiqah oleh para ulama.

Abu Zinad menerima hadits ini dari Al-A'raj, yaitu Abdurrahman bin Hurmuz, seorang tabi'in terkemuka dan murid senior Abu Hurairah.

Selanjutnya Al-A'raj meriwayatkannya langsung dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang paling banyak meriwayatkan hadits.

Seluruh perawi dalam sanad ini berstatus tsiqah dan sanadnya bersambung tanpa terputus. Riwayat ini juga semakin kuat karena memiliki jalur lain dalam Shahih Bukhari.

Penjelasan

Perhatikan struktur kalimatnya. Yang menarik dari hadits ini adalah cara Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ menyampaikan pesannya. Beliau tidak mengatakan secara langsung bahwa siwak itu wajib ataupun sunnah. Beliau menggunakan ungkapan "lau la" (لولا), yaitu bentuk pengandaian yang menunjukkan bahwa suatu keputusan sebenarnya sudah ingin diambil, tetapi ada penghalang yang membuatnya tidak jadi dilakukan.

Artinya, Kanjeng Nabi ﷺ sangat ingin memerintahkan umatnya untuk bersiwak setiap kali hendak shalat. Namun, beliau mengurungkan niat tersebut karena khawatir hal itu akan menjadi beban bagi umatnya.

Dari sinilah para ulama mengambil kesimpulan bahwa hukum siwak adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Tidak diwajibkannya siwak bukan karena kebersihan mulut dianggap remeh, tetapi justru karena beliau ﷺ mengutamakan kemudahan bagi umatnya. Hal ini sejalan dengan salah satu kaidah besar syariat, yaitu menghilangkan kesulitan (raf'ul haraj). Lihat َQS. Al Hajj Ayat 78

Sayangnya, sunnah yang hampir diwajibkan ini justru sering dilupakan. Banyak orang mengetahui keutamaannya, tetapi jarang membiasakan bersiwak sebelum shalat. Padahal beliau ﷺ menyebutkannya secara tegas, "pada setiap kali shalat", bukan hanya sesekali atau ketika teringat.

Karena itu, hadits ini tidak hanya mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan mulut, tetapi juga menunjukkan besarnya kasih sayang Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ kepada umatnya. Beliau rela tidak mewajibkan sesuatu yang sangat beliau inginkan agar umatnya tidak merasa terbebani.


Arti, Keutamaan dan Waktu-Waktu Dianjurkannya Bersiwak


Kata siwak sendiri dapat bermakna dua hal, yaitu (1) perbuatan membersihkan mulut, dan (2) alat yang digunakan untuk melakukannya, seperti kayu arak atau yang sejenisnya. (Fathul Qarib Mujib, H. 30)


Keutamaan siwak juga ditegaskan oleh banyak hadits shahih lainnya sehingga kita membaca ini hendaknya jangan sampai lupa mengerjakannya. 


Di antara keutamaannya adalah sebagai berikut.

1. Membersihkan mulut dan mendatangkan ridha Allah

Beliau ﷺ bersabda:

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

"Siwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan keridaan Allah."

(HR. Ahmad, an-Nasa'i, Ibnu Khuzaimah, dan lainnya)

Hadits ini menjelaskan bahwa manfaat siwak tidak hanya bersifat kesehatan, tetapi juga bernilai ibadah karena menjadi sebab datangnya ridha Allah.

2. Dianjurkan setiap kali berwudhu

Dalam riwayat lain Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوءٍ

"Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali berwudhu."

(HR. Malik, Ahmad, an-Nasa'i, dan lainnya.)

Point 2 ini menunjukkan bahwa bersiwak sangat erat kaitannya dengan persiapan beribadah. Jika wudhunya saja sudah berkualitas, in sya Allah shalatnya juga akan tumakninah, terburu-buru. 

3. Termasuk bagian dari fitrah

Beliau ﷺ memasukkan siwak ke dalam sepuluh perkara fitrah.

عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ ... وَالسِّوَاكُ

(HR. Muslim 261, Abu Daud 53)

Artinya, bersiwak merupakan bagian dari kebiasaan yang sesuai dengan kesucian dan fitrah manusia. Siapapun manusia enggan jika giginya kotor, mulutnya bau. Dan Hadits ini menunjukkan resminya sebagai ajaran Islam, bukan sekedar faktor manusiawi. Islam itu detail. 

4. Menjadi kebiasaan Nabi Muhammad ﷺ ketika bangun malam

Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ

"Apabila Rasulullah ﷺ bangun pada malam hari, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak."

(HR. Bukhari 245, Muslim 255, An Nasa’i 2)

Hadits ini menunjukkan bahwa siwak menjadi amalan rutin beliau sebelum memulai ibadah malam.

5. Mengawali masuk rumah dengan siwak

Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha juga meriwayatkan:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ بَدَأَ بِالسِّوَاكِ

"Apabila Nabi Muhammad ﷺ masuk ke rumahnya, beliau memulai dengan bersiwak."

(HR. Ahmad 25553 Abu Daud 51, An Nasa’i 8 )

Ini menunjukkan perhatian beliau terhadap kebersihan mulut ketika akan berkumpul dengan keluarga.

6. Tetap diamalkan hingga akhir hayat

Dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim, Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa pada saat-saat terakhir kehidupan Nabi Muhammad ﷺ, beliau meminta siwak lalu menggunakannya.

دَخَلَ عبدُ الرَّحْمَنِ بنُ أبِي بَكْرٍ ومعهُ سِواكٌ يَسْتَنُّ به، فَنَظَرَ إلَيْهِ رَسولُ اللَّهِ ﷺ، فَقُلتُ له: أعْطِنِي هذا السِّواكَ يا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، فأعْطانِيهِ، فَقَصَمْتُهُ، ثُمَّ مَضَغْتُهُ فأعْطَيْتُهُ رَسولَ اللَّهِ ﷺ، فاسْتَنَّ به وهو مُسْتَسْنِدٌ إلى صَدْرِي.

"Abdurrahman bin Abu Bakar masuk, sementara di tangannya ada sebatang siwak yang sedang digunakannya untuk bersiwak. Lalu Rasulullah ﷺ memandang ke arah siwak itu. Maka aku berkata kepadanya, 'Wahai Abdurrahman, berikan siwak itu kepadaku.' Ia pun memberikannya kepadaku. Kemudian aku mematahkan (atau merapikan) ujungnya, lalu mengunyahnya agar menjadi lunak, setelah itu aku menyerahkannya kepada Rasulullah ﷺ. Beliau pun bersiwak dengannya, sedangkan beliau sedang bersandar di dadaku."

Peristiwa ini menunjukkan bahwa siwak bukan sekadar amalan sesekali, melainkan sunnah yang terus dijaga oleh beliau ﷺ hingga menjelang wafat beliau.

Adab Bersiwak

Syaikh Muhammad bin Qasim Al Ghazi (pengarang kitab Fathul Qarib Mujib) menjelaskan agar kita memperoleh kesempurnaan pahala sunnah, dianjurkan memperhatikan beberapa adab berikut.

  1. Berniat menghidupkan sunnah Nabi Muhammad ﷺ ketika bersiwak.

  2. Menggunakan tangan kanan.

  3. Memulai dari bagian kanan mulut.

  4. Menggosok langit-langit mulut dengan lembut.

  5. Membersihkan sela-sela dan permukaan gigi, terutama gigi geraham, secara perlahan tanpa berlebihan.

Dari berbagai hadits yang telah disebutkan, tampak jelas betapa besar perhatian Islam terhadap sunnah bersiwak. Bahkan masih banyak riwayat lain yang membahas keutamaannya, meskipun sebagian di antaranya berstatus dhaif. Keseluruhan riwayat tersebut menunjukkan bahwa bersiwak merupakan amalan yang sangat dianjurkan dan memiliki kedudukan istimewa dalam syariat.

Karena itu, marilah kita mulai membiasakan bersiwak sejak hari ini. Semoga dengan menghidupkan sunnah yang mulia ini, kita memperoleh kebersihan lahir, meraih keridaan Allah, dan mendapatkan syafaat Nabi Muhammad ﷺ di akhirat kelak. Aamiin.

والله يتولى الجميع برعايته


Komentar

Postingan populer dari blog ini

HADITS KE 11 SEBAIK-BAIK KALIAN ADALAH YANG PALING BAIK AKHLAKNYA

ETIKA MERAWAT JENAZAH DAN PERMASALAHANNYA

PRINSIP RIZQI