[40] KEUTAMAAN MENUTUP AIB ORANG LAIN, APALAGI AIB SENDIRI
KEUTAMAAN MENUTUP AIB ORANG LAIN, APALAGI AIB SENDIRI
(Orang lain berusaha menutupi, eh dirinya malah bongkar aib sendiri)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله ﷺ «من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا، نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة. ومن يسر على معسر، يسر الله عليه في الدنيا والآخرة. ومن ستر مسلما، ستره الله في الدنيا والآخرة. والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه. ومن سلك طريقا يلتمس فيه علما، سهل الله له به طريقا إلى الجنة. وما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله، يتلون كتاب الله، ويتدارسونه بينهم، إلا نزلت عليهم السكينة، وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة، وذكرهم الله فيمن عنده. ومن بطأ به عمله، لم يسرع به نسبه». رواه مسلم (٢٦٩٩)
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa meringankan satu kesusahan seorang mukmin dari berbagai kesusahan dunia, niscaya Allah akan meringankan darinya satu kesusahan dari berbagai kesusahan pada Hari Kiamat. Barang siapa memberikan kemudahan kepada orang yang sedang mengalami kesulitan, niscaya Allah akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan di akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), membaca Kitab Allah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan meliputi mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut mereka di hadapan para makhluk yang berada di sisi-Nya. Dan barang siapa yang amalnya memperlambat dirinya (sehingga tidak mencapai derajat yang tinggi), maka kemuliaan nasabnya tidak akan dapat mempercepat atau mengangkat derajatnya." [HR. Muslim 252]
Status Hadits
Hadits ini shahih karena diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab sahihnya.
Sanad
Secara singkat sanadnya adalah sebagai berikut:
Rasulullah ﷺ ← Abu Hurairah ← Abu Shalih As-Samman ← Sulaiman bin Mihran Al-A'masy ← Abu Mu'awiyah Muhammad bin Khazim Adh-Dharir ← Yahya bin Yahya At-Tamimi → Imam Muslim
Penjelasan
Hadits ini sebenarnya memuat banyak pelajaran. Setidaknya ada tujuh pesan penting yang disampaikan Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana di terjemah. Namun, tulisan ini hanya akan memfokuskan pembahasan pada salah satunya, yaitu sabda beliau ﷺ:
«وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ»
"Barang siapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat."
Penulis memilih bagian ini karena terasa sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini. Di era media sosial, membagikan informasi hanya “klik bagikan”. Budaya viral dan FYP sering kali membuat orang berlomba-lomba mengunggah konten yang menarik perhatian, meskipun harus mengorbankan privasi dan kehormatan orang lain. Aib yang seharusnya cukup diketahui segelintir orang justru menjadi tontonan jutaan pasang mata. Itu sama sekali bukan adab Islam.
Yang lebih memprihatinkan, terkadang bukan orang lain yang membongkar aib tersebut, melainkan pemiliknya sendiri demi popularitas dan keuntungan dari konten. Tidak sedikit orang rela membuka hal-hal yang semestinya dijaga. Padahal, Islam sangat menghormati kehormatan. Karena itu, pesan beliau ﷺ ini bukan hanya sesuai, tapi mendesak untuk dipahami dan diamalkan. Selanjutnya
Yang dimaksud dengan "menutupi" (ستر) bukanlah menyembunyikan kejahatan atau menghalangi tegaknya keadilan, melainkan menjaga kehormatan seorang muslim dari terbukanya kekurangan atau dosa pribadinya yang tidak membawa mudarat kepada orang lain. Jika seseorang terpeleset dalam suatu kesalahan lalu menyesal dan berusaha memperbaiki diri, maka yang dianjurkan adalah menasihatinya secara pribadi, bukan menjadikannya bahan gunjingan atau tontonan publik.
Dalam syarahnya terhadap hadits ini, Imam Nawawi menjelaskan bahwa keutamaan menutup aib berlaku bagi orang yang tidak dikenal gemar berbuat maksiat atau merusak masyarakat. Adapun apabila seseorang terang-terangan melakukan kemaksiatan, membahayakan orang lain, atau terus mengulangi kejahatannya, maka menutupinya bukanlah sikap yang dianjurkan. Dalam kondisi seperti itu, perkara tersebut boleh disampaikan kepada pihak yang berwenang agar kemungkaran dapat dihentikan. Ini menunjukkan bahwa Islam membedakan antara menjaga kehormatan pribadi dan membiarkan kezaliman terus berlangsung.
Balasan yang dijanjikan juga sangat menarik. Kanjeng Nabi ﷺ tidak hanya mengatakan bahwa Allah akan menutup aibnya di akhirat, tetapi juga di dunia dan di akhirat. Di dunia, Allah dapat menutupi kekurangan seorang hamba sehingga tidak dipermalukan di hadapan manusia, memberi kesempatan untuk bertaubat, serta menjaga nama baiknya. Adapun di akhirat, Allah tidak menghinakannya di hadapan seluruh makhluk dan memudahkan hisabnya. Makna ini sejalan dengan hadits tentang seorang mukmin yang didekatkan oleh Allah pada hari kiamat, lalu Allah mengingatkan dosa-dosanya secara rahasia sebelum mengampuninya.
Pelajaran
Hadits ini mengandung banyak sekali pelajaran. Diantaranya:
Menjaga kehormatan seorang muslim adalah ibadah yang berpahala besar
Rasulullah ﷺ bersabda:
فإنَّ دِماءَكُمْ وأَمْوالَكُمْ وأَعْراضَكُمْ علَيْكُم حَرامٌ
“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian..." HR. Bukhari 1739
Balasan Allah sejalan dengan perbuatan hamba
Siapa yang menjaga kehormatan orang lain, Allah akan menjaganya. Ini menunjukkan salah satu sunnatullah bahwa balasan sering kali sejenis dengan amal (al-jaza' min jins al-'amal). Allah berfirman:
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
"Bukankah balasan kebaikan itu tidak lain adalah kebaikan (pula)." [QS. Ar-Rahman: 60]
Menutup aib berbeda dengan membiarkan kemaksiatan
Islam mengajarkan agar kesalahan pribadi ditutupi dan diperbaiki, tetapi kezaliman yang merugikan orang lain harus dihentikan. Allah berpesan:
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
"Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan." [QS. Al-Ma'idah: 2]
Karena itu, menutup aib tidak boleh dijadikan alasan untuk melindungi pelaku kejahatan atau menghalangi penegakan hukum.
Islam melarang membuka aib dan menyebarkan keburukan
Menyebarkan kesalahan orang lain termasuk pintu menuju ghibah, fitnah, dan rusaknya persaudaraan. Dan itu dilarang. Allah berfirman
وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ
"Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain." [QS. Al-Hujurat: 12]
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
كُلُّ أُمَّتي مُعافًى إلّا المُجاهِرِينَ
"Setiap umatku akan mendapat ampunan kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat maksiat." HR. Bukhari 6069 dan Muslim 2990
Menasihati lebih utama daripada mempermalukan
Tujuan mengetahui kesalahan seseorang adalah memperbaikinya, bukan menjatuhkannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الدِّينَ النَّصِيحَةُ
"Agama adalah nasihat." HR. Muslim 55
Karena itu, nasihat idealnya dilakukan secara pribadi, sehingga menjaga kehormatan orang yang dinasihati.
Media sosial menuntut tanggung jawab moral
Kemudahan teknologi tidak mengubah hukum syariat. Tombol share, forward, atau upload tetap berada dalam wilayah pertanggungjawaban amal.
Ini sangat penting untuk disadari. Meskipun zamannya media sosial, bukan berarti tanggungjawab tidak ada. Hukum perbuatan tetap berlaku. JIka baik ya berpahala, jika buruk ya berdosa. makanya hati-hati betul. Allah berfirman:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ- وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. [QS. Al Zalzalah 7-8]
والله يتولى الجميع برعايته

Komentar
Posting Komentar