[41] JANGAN SEMBARANG MENGATASNAMAKAN NABI ﷺ

 JANGAN SEMBARANG MENGATASNAMAKAN NABI ﷺ

“Karena dampaknya terkesan membuat agama baru”


٣٢٧٤ - حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ: أَخْبَرَنَا الْأَوْزَاعِيُّ: حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي كَبْشَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو: أَنّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ). رواه البخاري

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim adh-Dhahhak bin Makhlad, telah mengabarkan kepada kami al-Auza‘i, telah menceritakan kepada kami Hassan bin ‘Athiyyah, dari Abu Kabsyah, dari Abdullah bin ‘Amr, bahwa Nabi ﷺ bersabda: 

“Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat. Dan ceritakanlah dari Bani Israil, tidak mengapa. Namun, barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” HR. Bukhari No 3274

Status Hadits

Hadits ini shahih karena diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab sahihnya. 

Sanad 

Sanad yang disebutkan dalam Al-Bukhari adalah: Al Bukhari ← Abu ‘Ashim adh-Dhahhak bin Makhlad  ← Al-Auza‘i ← Hassan bin ‘Athiyyah ← Abu Kabsyah ← Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash ← Nabi ﷺ

Penjelasan


Hadits ini sangat kaya kalau dibedah. Ia tidak hanya berbicara tentang larangan berdusta atas nama Nabi ﷺ, tetapi membangun satu etika transmisi agama, yakni dakwah harus berjalan, tetapi harus dibatasi oleh ilmu, ketelitian, dan kejujuran.


“بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً” 

Setiap orang didorong untuk berdakwah. Kata بَلِّغُوا adalah fi'il amr, perintah. “sampaikanlah.” Yang disampaikan adalah: عَنِّي “dariku.”

Artinya, yang diperintahkan bukan sekadar menyebarkan informasi agama, tetapi menyampaikan apa yang benar-benar berasal dari Rasulullah ﷺ, baik itu berupa Al-Qur’an maupun hadits, meskipun yang dimiliki seseorang hanya sedikit


Jadi, sedikit ilmu bukan alasan untuk tidak berdakwah. Tetapi, sedikit ilmu juga bukan izin untuk berbicara tentang sesuatu yang tidak diketahui.Ini dua hal yang harus dibedakan.


“وَلَوْ آيَةً” 

Tidak harus menunggu menjadi ulama. Ungkapan ولو آية menunjukkan dorongan agar seseorang menyampaikan ilmu yang benar yang telah ia ketahui, meskipun sedikit.

Ibn Hajar dalam Fatḥ al-Bārī menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan anjuran menyampaikan ilmu, meskipun ilmu yang dimiliki hanya sedikit, selama seseorang memang mengetahui apa yang ia sampaikan.  


Maka jangan sampai muncul mentalitas “Saya bukan ustadz, berarti saya tidak boleh berdakwah.” Tidak demikian. Tetapi juga jangan berubah menjadi: “Saya sudah membaca satu hadits, berarti saya boleh menjelaskan semua persoalan agama.” Itu juga tidak benar. Hadits ini mendorong dakwah, bukan mendorong berbicara tanpa ilmu.


Praktik hal ini yang kami temukan di Ma’had Nurul Haromain yang membuat konsep tiga pilar dakwah, yakni (1) hamiluddakwah, (2) nasyirud dakwah dan (3) nashirud dakwah: Pengemban, penyebar dan penolong. Point yang kedua ini Abi Ihya sering menyebutnya sebagai “Kyai Ceret”, yang ilmunya bukan sumber, ceret hanya menampung sedikit lalu setiap hari Kamis-Ahad dibagikan ke masyarakat sebagai praktik “Ballighu Anni Walau Ayah”


وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا

Adalah puncak peringatan. “Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja…” Kata yang sangat penting adalah: مُتَعَمِّدًا “dengan sengaja.”


Imam Nawawi dalam syarh Muslim menjelaskan bahwa ancaman tersebut ditujukan kepada orang yang sengaja membuat atau menyampaikan kedustaan atas nama Nabi ﷺ. Penjelasan hadits tersebut juga menegaskan bahwa ancaman ini menunjukkan beratnya dosa berdusta atas nama Rasulullah ﷺ, karena perkataan beliau memiliki fungsi sebagai sumber syariat.


Mengapa lebih berat daripada dusta biasa? Karena seseorang yang berdusta atas nama Nabi tidak hanya memproduksi informasi palsu. Tapi Ia berpotensi memproduksi agama palsu. Misalnya seseorang berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda bahwa melakukan X pasti mendapatkan pahala sekian.” Jika ternyata beliau ﷺ tidak pernah mengatakannya, maka ia telah memasukkan sebuah informasi yang tidak berasal dari Nabi ke dalam wilayah agama. Inilah yang membuat persoalannya sangat serius.


Lalu mengapa harus mendustakan Nabi? Apa motifnya? Apa pasti orang orientalis yang ingin mengubah agama Islam? ternyata tidak selalu begitu. bisa jadi ada yang justru ingin menolong agama islam ini, namun dengan cara yang salah.

Abuya dalam kitabnya Al Manhal Al Lathif telah menuliskan point motif orang memalsukan hadits. Diantaranya

  1. Membela mazhab tertentu, seperti yang dilakukan oleh kelompok Khattabiyah dari kalangan Rafidhah. Mereka membuat hadits-hadits palsu untuk mendukung bid'ah yang mereka ada-adakan dalam agama.

  2. Mencari kedekatan dengan raja dan penguasa, dengan membuat hadits-hadits yang sesuai dengan kepentingan mereka.

  3. Mencari penghasilan dan nafkah dengan cara memalsukan hadits, seperti yang dilakukan oleh para pendongeng yang mencari nafkah dari hal tersebut, salah satunya adalah Abu Sa'id Al-Madaini.

  4. Membela fatwa yang salah, sehingga seorang mufti membuat hadits palsu untuk mendukung fatwanya. Dikatakan bahwa di antara orang yang melakukan hal ini adalah Abu Al-Khattab bin Dihyah dan Abdul Aziz bin Al-Harits Al-Hanbali.

  5. Mendorong orang untuk melakukan kebaikan, sehingga hadits palsu dibuat untuk tujuan tersebut. Kebanyakan orang yang melakukan jenis pemalsuan ini adalah mereka yang mengaku sebagai ahli zuhud. Mereka ini adalah orang yang paling berbahaya, karena mereka menganggap perbuatan tersebut sebagai bentuk kedekatan kepada Allah, padahal itu termasuk dosa besar. Apalagi orang-orang tertipu dengan penampilan mereka yang seolah-olah saleh, sehingga mereka percaya dan meriwayatkan hadits-hadits palsu tersebut. Hal yang membuat mereka berani melakukan hal ini adalah ketidaktahuan mereka tentang haramnya perbuatan tersebut, atau keyakinan mereka yang salah bahwa yang dilarang hanyalah berdusta atas nama Rasulullah ﷺ yang merugikan syariat dan agamanya, bukan dusta yang mendukung agamanya. Padahal, keduanya adalah dusta atas nama beliau. Di antara perbuatan mereka adalah membuat hadits-hadits tentang shalat dan puasa khusus.

  6. Tujuan mendidik anak-anak, sehingga hadits-hadits palsu dibuat untuk mereka dan diajarkan kepada mereka, sehingga mereka meyakini kebenarannya dan meriwayatkannya setelah itu.

Lalu, Bagaimana Cara Mengenali Hadis Palsu di Era Modern?

Hadits palsu tidak selalu dapat dikenali hanya dari bunyi atau isi teksnya. Di era digital, berbagai kutipan yang mengatasnamakan Rasulullah ﷺ berseliweran di media sosial dan grup WhatsApp. Persoalannya, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk memeriksa keaslian sebuah hadits. Akibatnya, masyarakat awam, bahkan ustadz yang kurang teliti, terkadang ikut menyebarkannya sebagai konten dakwah. Ini beberapa nasehat yang perlu kita pegang agar tidak terjebak percaya dan membagikan hadits palsu. 


1. Jangan percaya hanya karena ada tulisan “HR. ...”


Ini fenomena yang sangat sering terjadi. Misal sebuah poster menulis: … HR. Bukhari”, maka orang langsung percaya. Padahal belum tentu nomor haditsnya benar. Bahkan kadang nama kitab yang dicantumkan tidak sesuai dengan isi. Maka nama kitab bukan bukti sebelum sumbernya diperiksa. Minimal periksa: nama kitab → nomor hadits → teks Arab → konteks → penilaian ulama.


2. Waspadai hadits yang terlalu “sempurna” untuk kepentingan tertentu


Misalnya: “Barang siapa menyebarkan pesan ini kepada 10 orang, maka akan mendapatkan pahala 10.000 tahun.” Atau: “Barang siapa tidak menyebarkan pesan ini, maka akan mendapatkan musibah.” Atau: “Barang siapa melakukan amalan tertentu pada tanggal tertentu, Allah menjamin rezekinya sekian juta.” Atau yang dulu dicontohkan Abina “Barang siapa mekan gruppu (kerupuk), maka Allah akan meridhaninya”


Redaksi semacam ini belum otomatis palsu, tetapi merupakan tanda untuk berhenti dan memeriksa. Jangan tertipu oleh angka besar. Semakin fantastis klaimnya, semakin wajib kita meminta sumbernya.


3. Waspadai hadits yang sangat cocok dengan kepentingan kita


Inilah justru salah satu jebakan terbesar. Kita menemukan sebuah hadits yang mendukung pendapat kita. Tentu kita senang. Lalu langsung membagikannya. Padahal seharusnya justru ketika sebuah hadits sangat menguntungkan posisi kita, pemeriksaan harus semakin ketat. Disinilah ustadz kadang diuji. 


Misalnya: “Ternyata Nabi ﷺ sudah mengatakan kelompok saya yang paling benar.” Jangan langsung gembira. Takhrij dulu. Sebab fanatisme kelompok merupakan salah satu faktor yang telah dibahas dalam sejarah pemalsuan hadits. 


Salah satu dosen saya pernah menyampaikan: “Kadang kamu perlu meneliti julukan seorang imam, misal “Imam Al Qaffal” yang artinya ahli kunci. Kamu analisis apakah penamaan itu karena nisbat ke profesi beliau, atau karena sering mengutip hadits tentang keutamaan kunci, sehingga bisa disebut tendensius”


4. Jangan menganggap bahasa Arab sebagai bukti hadits


Ini yang sering terjebak orang wab, juga ustdaz yang kurang pengalaman. Misla orang melihat:

 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ

kemudian langsung percaya. Padahal siapa pun dapat membuat kalimat Arab. Bahkan AI dapat membuat teks Arab yang sangat fasih, istilahnya pharafrase. Maka bahasa Arab ≠ hadits. Tulisan indah ≠ hadits. Harakat lengkap ≠ hadits. Desain Islami ≠ hadits. Satu-satunya cara adalah: kembali kepada sumber.


5. Jangan langsung mengatakan “palsu” hanya karena tidak ditemukan


Ini kesalahan yang juga bisa dilakukan oleh ustadz. Misalnya seseorang mencari hadits di satu aplikasi. Tidak ditemukan. Lalu berkata: “Ini hadits palsu.” Kesimpulan tersebut terlalu jauh. Yang lebih ilmiah dan bijak: “Saya belum menemukannya dalam sumber yang saya periksa.” Sebab tidak ditemukannya hadits dalam satu database tidak sama dengan terbuktinya hadits tersebut palsu. Kadang di aplikasi tidak ditemukan, tapi di cetakan lawas ada. Hadits bisa memiliki riwayat dengan lafadz berbeda, jalur berbeda, nama perawi yang berbeda dalam penulisan, atau berada dalam kitab yang belum diperiksa. Karena itu “Tidak menemukan tidak selalu berarti tidak ada.” Di rumah tidak ada motor bukan berarti tidak ada orang. 


6. Jangan menyamakan dha'if dengan maudhu'


Inilah mungkin kesalahan paling penting yang harus diberantas. Urutannya tidak demikian: Shahih → Hasan → Dha'if → Maudhu'. Seolah-olah hadits maudhu' adalah sekadar tingkat kelemahan paling bawah. Tidak sesederhana itu.


Hadits dha'if berarti riwayat tersebut tidak memenuhi standar tertentu untuk diterima sebagai hadits sahih atau hasan. Hadits maudhu' berarti riwayat yang dinilai sebagai hasil pemalsuan dan dinisbatkan kepada Nabi ﷺ. Karena itu: “Setiap hadits maudhu' adalah tertolak, tetapi tidak setiap hadits dha'if adalah maudhu'. Setiap kepala itu bulat, tapi tidak semua yang bulat pasti kepala. 


والله يتولى الجميع برعايته


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PRINSIP RIZQI

HADITS KE 11 SEBAIK-BAIK KALIAN ADALAH YANG PALING BAIK AKHLAKNYA

ETIKA MERAWAT JENAZAH DAN PERMASALAHANNYA