[37] KEUTAMAAN MERESPON ADZAN
KEUTAMAAN MERESPON ADZAN
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ؛ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ. ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ. فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا. ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ. فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ. وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ. فَمَنْ سَأَلَ لي الوسيلة حلت له الشفاعة». (رواه مسلم ٣٨٤)
"Apabila kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kepadaku, karena sesungguhnya siapa saja yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mohonkanlah kepada Allah al-wasilah untukku, karena ia adalah suatu kedudukan di surga yang tidak layak kecuali bagi seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap akulah orangnya. Maka siapa yang memohonkan al-wasilah untukku, halallah baginya syafaat."
Sanad dan Status Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhuma, dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim nomor 384. Status hadits: shahih, dan termasuk afrad Muslim, yakni diriwayatkan Imam Muslim tanpa disertai Imam Bukhari dalam Shahihain.
Abdullah bin Amr bin al-Ash dikenal sebagai sahabat yang rajin mencatat hadits Nabi ﷺ. Riwayatnya dalam masalah ibadah termasuk yang paling dapat dipercaya.
Penjelasan
Adzan Bukan Sekadar Pengumuman Waktu
Sebagian orang memperlakukan adzan seperti alarm jam, begitu selesai berbunyi, kembali ke kesibukan semula. Padahal hadits ini dengan tegas membuka sebuah pintu: "apabila kalian mendengar muadzin." Kata sami'tum bukan hanya soal telinga yang menangkap suara, tapi soal hati yang benar-benar hadir.
Kanjeng Nabi ﷺ memberikan tiga perintah berurutan yang masing-masing memiliki bobot tersendiri.
Perintah Pertama: Ikuti Lafal Muadzin
"Qulu mitsla ma yaqul", ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan. Artinya, ulang kembali lafal adzan kalimat demi kalimat. Ketika muadzin mengucapkan "Allahu Akbar, Allahu Akbar," maka pendengar pun mengucapkan hal yang sama. Demikian seterusnya hingga akhir adzan.
Satu pengecualian yang perlu diketahui, sebagaimana ditegaskan dalam riwayat Muslim: ketika muadzin mengucapkan "Hayya 'alas shalah" dan "Hayya 'alal falah," pendengar tidak menirunya, melainkan menggantinya dengan "La haula wala quwwata illa billah." Ini bukan kekeliruan, ini justru sunnah yang tepat. Muadzin menyeru untuk bergerak, sedangkan pendengar mengakui bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah. Sebuah pengakuan yang sangat dalam: bahkan untuk menjawab seruan shalat sekalipun, kita butuh pertolongan-Nya.
Perintah Kedua: Bershalawat Setelah Adzan Selesai
Setelah adzan usai, Kanjeng Nabi ﷺ memerintahkan untuk bershalawat kepadanya. Dan imbalannya sangat jelas: satu shalawat dari seorang hamba, Allah membalas dengan sepuluh shalawat.
Yang perlu dipahami, shalawat Allah kepada hamba bukan berarti Allah mendoakan hambanya seperti manusia mendoakan sesamanya. Para ulama menjelaskan bahwa shalawat Allah kepada hamba bermakna Allah memuji hamba tersebut di hadapan para malaikat dan menurunkan rahmat-Nya kepadanya. Ini bukan perkara kecil. Dipuji oleh Allah di hadapan para malaikat adalah sebuah kedudukan yang tidak bisa dibeli dengan apapun.
Perintah Ketiga: Mohon Al-Wasilah untuk Kanjeng Nabi ﷺ
Inilah puncak dari rangkaian perintah dalam hadits ini. Kita diminta memohon kepada Allah agar menganugerahkan al-wasilah kepada Nabi ﷺ. Dan bentuk doa yang paling lengkap sudah diajarkan dalam Shahih Bukhari:
"Allahumma Rabba hadzihid da'watit tammah wash shalatil qa'imah, ati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab'atshu maqamam mahmudanil ladzi wa'adtah."
Al-wasilah adalah kedudukan tertinggi di surga, satu tempat yang hanya pantas dihuni oleh satu orang. Kanjeng Nabi ﷺ sendiri berkata, "wa arjuu an akuuna ana huwa", ungkapan yang bukan merupakan keraguan tentang kedudukan beliau, melainkan bentuk tawadhu' sekaligus ajakan kepada umat untuk turut mendoakannya.
Rantai Sebab-Akibat yang Tersembunyi
Perhatikan bagaimana hadits ini membangun logika pahala secara bertahap: menjawab adzan membuka shalawat, shalawat membuka balasan berlipat dari Allah, doa wasilah membuka syafaat. Ini bukan hadits tentang satu amal tunggal, tapi tentang sebuah rantai ibadah yang saling terkait, dimulai dari hal sederhana: mendengarkan seruan adzan dengan sadar.
"Hallat lahus syafa'ah" kata halla dalam bahasa Arab berupa shighat fiil madhi, menunjukkan kepastian yang sudah turun dan menetap. Bukan sekadar "mungkin mendapat syafaat," tapi syafaat itu sudah menjadi haknya yang pasti.
Keutamaan Seputar Adzan
1. Keutamaan Muadzin
الْمُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Para muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat."
HR Muslim no. 387
Abi Ihya menjelaskan "panjang leher" sebagai kiasan bagi orang yang paling banyak melihat rahmat Allah dan paling tinggi kedudukannya, bukan seperti jerapah. Karena pada hari kiamat, manusia berada dalam kesulitan dan kesempitan, sedangkan muadzin justru tegak dengan penuh kemuliaan.
2. Doa Setelah Adzan Tidak Tertolak
لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ
"Doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah."
HR Abu Dawud no. 521; Sunan at-Tirmidzi no. 212
Hadits ini membuka mata kita pada satu celah emas yang sering terlewat. Di antara adzan dan iqamah ada jendela waktu yang pendek, tapi di sana doa tidak akan Allah tolak. Berapa banyak hajat yang bisa dipanjatkan dalam rentang waktu itu, kalau kita tidak menghabiskannya dengan hal-hal yang tidak perlu?
3. Keutamaan Menjawab Adzan
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barang siapa yang mengucapkan ketika mendengar adzan: 'Allahumma Rabba hadzihid da'watit tammah wash shalatil qa'imah, ati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab'atshu maqamam mahmudanil ladzi wa'adtah', maka halallah baginya syafaatku pada hari kiamat." HR. Bukhari no. 614
4. Adzan Mengusir Setan
إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ
"Apabila dikumandangkan adzan untuk shalat, setan berpaling lari sambil kentut hingga tidak mendengar adzan." HR. Bukhari no. 608; HR. Muslim no. 389.
Hadits ini memberi gambaran yang sangat gamblang, bahkan setan pun tidak sanggup bertahan mendengar adzan. Kalau makhluk yang menghabiskan hidupnya untuk menggoda manusia saja lari terbirit-birit dari suara adzan, sudah sepatutnya kita yang beriman justru berlari menuju-nya.
Pesan Penting
Adzan bukanlah gangguan. Adzan adalah jeda yang Allah sediakan di tengah hiruk-pikuk dunia, supaya kita tidak lupa ke mana kita sedang berjalan dan kepada siapa kita akan kembali.
Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar sudah memberikan sinyal yang sangat terang: orang yang sedang berdzikir pun disunnahkan memotong dzikirnya demi menjawab adzan. Bukan sekadar boleh, tapi disunnahkan. Dzikir adalah ibadah yang agung, wirid yang mulia, amalan yang para ulama jaga dengan ketat. Tapi ketika adzan berkumandang, Imam an-Nawawi berkata: hentikan, jawab dulu, baru lanjutkan.
Kalau dzikir saja rela disela, lalu dengan cara apa kita membenarkan diri untuk melanjutkan rapat, melanjutkan obrolan, melanjutkan hal-hal yang bahkan tidak akan kita ingat besok, sementara seruan Allah lewat begitu saja tanpa satu pun kata yang kita ucapkan?
Rapat itu bisa dilanjutkan. Obrolan itu bisa disambung. Tapi adzan yang sudah berlalu, beserta seluruh pahala dan pintu syafaat di dalamnya, tidak akan pernah kembali. Sebernilai apakah usulan kita saat rapat? lebih bernilai mana dibanding suara seruan yang mengajak kita kepada Allah?
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ
Tiga menit. Lima kali sehari. Untuk bekal yang tidak terbatas.
Masih mau diabaikan? itu pilihan antum.
والله يتولى الجميع برعايته
Komentar
Posting Komentar