[36] KEUTAMAAN DOA PERLINDUNGAN DARI 8 PENYAKIT MENTAL
KEUTAMAAN DOA PERLINDUNGAN DARI 8 PENYAKIT MENTAL
حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ قَالَ: حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ أَبِي عَمْرٍو قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسًا قَالَ:كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ (رواه البخاري، رقم: ٦٠٠٨)
Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad: telah menceritakan kepada kami Sulaiman, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Amru bin Abi Amru, ia berkata: aku mendengar Anas berkata:
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa gundah dan sedih, dari lemah dan malas, dari pengecut dan kikir, dari terlilit hutang, dan dari tekanan orang lain." [HR. Bukhari 6008]
Takhrij Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Da'awat (Kitab Doa-Doa), nomor hadits 6008. Hadits ini juga terdapat pada nomor 2668 dalam Kitab al-Jihad wa al-Siyar.
Selain al-Bukhari, hadits serupa juga diriwayatkan oleh:
▸ Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab al-Shalat, no. 1555 — dari riwayat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
▸ Imam al-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab al-Isti'adzah, no. 5450.
▸ Imam Ahmad dalam Musnad-nya, no. 12491.
Sanad hadits ini melalui jalur: Khalid bin Makhlad → Sulaiman bin Bilal → Amru bin Abi Amru → Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Status Hadits
Hadits ini berstatus shahih, termuat dalam Shahih al-Bukhari yang merupakan kitab hadits paling shahih setelah al-Quran menurut kesepakatan ulama. Imam al-Bukhari adalah imam yang paling teliti dalam penerimaan hadits, dengan syarat perawi yang sangat ketat.
Penjelasan
Imam al-Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa doa ini termasuk dalam kategori doa-doa yang ma'tsur (diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ) yang sangat dianjurkan untuk diamalkan. Beliau berkata:
هَذَا الدُّعَاءُ مِنْ جَوَامِعِ الْكَلِمِ الَّتِي أُوتِيَهَا النَّبِيُّ ﷺ
"Doa ini termasuk dari kalimat-kalimat yang padat makna yang dianugerahkan kepada Nabi ﷺ."
Setelah kita tahu hadits ini shahih dan dibaca Rasulullah ﷺ secara rutin, pertanyaannya: apa sebenarnya yang beliau minta perlindungan darinya? Kalau dibaca sepintas, terasa seperti 8 daftar doa biasa, tapi kalau direnungkan, ini bukan sekadar daftar. Ini peta lengkap tentang bagaimana manusia bisa hancur. Dan yang membuat semakin istimewa: delapan perkara itu disusun dalam empat pasangan yang masing-masing saling mengunci. Mudah dilafalkan dan dibaca setiap pesantren dalam rentetan doa wirid mereka.
PASANGAN 1
الْهَمُّ & الْحَزَن (Gundah & Sedih)
Pernah lihat orang yang hidupnya seperti terjebak di dua penjara sekaligus?
Penjara pertama: “Penyakit kepikiran”. Berpikir itu bagus. Tapi kalau kepikiran itu penyakit. Tiap malam kepikiran besok. "Gimana kalau gagal? Gimana kalau ditolak? Gimana kalau tidak cukup?" Belum terjadi apa-apa, tapi kepalanya sudah penuh dengan skenario terburuk. Tidur tidak nyenyak, makan tidak enak, kerja tidak fokus. Semua gara-gara sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi.
Penjara kedua: Siang harinya masih memutar ulang kejadian lama. Kesalahan tiga tahun lalu masih diratapi. Hubungan yang sudah selesai masih dipeluk, istilah sekarang belum bisa “move on”. Peluang yang terlewat masih disesali. "Coba waktu itu aku..." terus berputar di kepala.
Nah, Orang seperti ini hidupnya tidak pernah di hari ini. Badannya ada di sini, pikirannya ada di mana-mana.
Makanya Rasulullah ﷺ menyebutnya berpasangan, karena dua-duanya menyerang dari arah yang berlawanan. Masa lalu menarik ke belakang, masa depan menakut-nakuti ke depan. Padahal manusia berdiri diam, tidak ke mana-mana. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa gundah dan sedih”
Allah Ta'ala berfirman:
اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْن
"Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran, gundah (hamm) pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati (huzn)." (QS. Yunus: 62)
Ayat ini menarik, karena Allah menyebutkan dua kata yang persis sama dengan yang ada dalam doa Nabi ﷺ. Seolah Allah sedang berkata: "Jalan keluarnya bukan dengan menghindari masalah, tapi dengan menjadi wali-Ku." Dan bagaimana menjadi wali Allah? Ayat berikutnya langsung menjawab: mereka yang beriman dan bertakwa.
Dan saat tertimpa kesedihan pun, sebenarnya Rasulullah ﷺ juga telah menghibur:
عجبًا لأمرِ المؤمنِ إنَّ أمرَه كلَّه خيرٌ إنْ أصابَتْه سرّاءُ شكَر وإنْ أصابَتْه ضرّاءُ صبَر وكان خيرًا له وليس ذلك لأحدٍ إلّا للمؤمنِ
"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan, dan itu tidak dimiliki siapapun kecuali orang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur — itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar — itu pun baik baginya." (HR. Muslim, no. 2999, dari Shuhaib ra.)
Inilah "teknologi" Islam untuk menghadapi hamm dan huzn sekaligus, yaitu: syukur untuk yang menyenangkan, sabar untuk yang menyakitkan. Dua modal ini menutup kedua penjara tadi dari dalam. Obatnya satu: Masa lalu bawa ke istighfar. Masa depan bawa ke tawakal. Lalu kerjakan hari ini.
PASANGAN 2
الْعَجْزُ & الْكَسَلُ (Lemah & Malas)
Ada tiga tipe orang dalam organisasi, rumah tangga, atau usaha apapun:
Tipe pertama: Si Semangat tanpa Kompas. Datang paling pagi, pulang paling malam, tidak pernah mengeluh, siap disuruh apa saja. Tapi kalo suruh dia berpikir sendiri, buntu. Kasih tugas baru, panik. Setiap pekerjaan harus dijelaskan dari nol, diulang berkali-kali, dan tetap saja ada yang meleset. Bukan karena tidak mau, dia sangat mau. Tapi kemampuannya tidak tumbuh. Ini 'ajz (lemah kognitifnya).
Tipe kedua: Si Jenius yang Mubazir. Sekali duduk bisa menyelesaikan masalah yang orang lain butuh seminggu. Ide-idenya segar, analisisnya tajam. Tapi deadline? Santai dulu. Rapat jam 8? Datang jam 9 tanpa rasa bersalah. Tugasnya? Nanti, nanti, nanti, sampai semua orang yang menunggu sudah putus asa duluan. Ini kasal (mampu tanpa mau alias pemalas)
Tipe ketiga: Yang semua orang cari. Mau dan mampu. Semangat dan kompeten. Rajin dan cerdas. Tidak perlu diawasi, tidak perlu diingatkan, tidak perlu dimotivasi tiap pagi.
Kalam hikmah mengatakan: Miskin sukses ada, kaya sukses banyak, anak petani sukses banyak, anak pejabat sukses juga dimana-mana, tapi malas sukses? mustahil.
Pemalas akan terusir dimana-mana. Karena dia akan selalu menjadi beban. Sebab itulah Rasulullah ﷺ mengajarkan perbanyak doa tersebut agar seorang muslim tidak terhina.
PASANGAN 3
الْجُبْنُ & الْبُخْلُ (Pengecut & Kikir)
Gambaran si pengecut: Ada ketidakberesan di depan matanya. Teman dizalimi, keputusan yang salah, pemimpin yang keliru. Dia tahu. Dia paham. Dalam hati dia tidak setuju. Tapi mulutnya terkunci. Alasannya selalu ada "nanti dulu," "bukan urusan aku," "takut salah." Yang ada di kepalanya cuma satu: aman.
Gambaran si kikir: Bukan hanya orang yang pelit uang. Kikir itu lebih luas. Ada yang kikir ilmu (tahu caranya tapi tidak mau mengajari). Ada yang kikir waktu (tidak mau repot untuk orang lain). Ada yang kikir tenaga (kalau bukan untuk kepentingannya sendiri, dia tidak bergerak).
Kenapa dipasangkan? Karena pengecut itu kikir dengan nyalinya. Dan kikir itu pengecut dalam hal berbagi. Dua-duanya menahan sesuatu yang seharusnya dikeluarkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ
"Jauhilah sifat kikir, karena sesungguhnya kikir telah menghancurkan orang-orang sebelum kalian. Kikir mendorong mereka menumpahkan darah dan menghalalkan apa yang diharamkan." (HR. Muslim, no. 2578, dari Jabir radhiyallahu 'anhu)
Perhatikan! Kanjeng Nabi ﷺ tidak mengatakan kikir itu tidak baik. Beliau mengatakan kikir itu menghancurkan. Dan bukan hanya menghancurkan yang bersangkutan, tapi menghancurkan komunitas, bangsa, bahkan peradaban. Kikir yang dibiarkan berujung pada kezaliman. Dan kezaliman butuh keberanian seseorang untuk menghentikannya, yang tidak akan datang dari orang pengecut.
Terakhir kali kamu diam padahal seharusnya bicara, itu karena bijaksana, atau karena takut?
PASANGAN 4
ضَلَعُ الدَّيْنِ & غَلَبَةُ الرِّجَالِ (Lilitan Hutang & Tekanan Manusia)
Orang yang terlilit hutang bukan hanya susah secara finansial. Yang paling berat bukan angkanya, justru beban mentalnya. Dia bangun pagi langsung ingat hutang. Telepon masuk jantungnya makin kencang, gusar. Keputusannya dalam hidup tidak lagi berdasarkan apa yang benar, tapi berdasarkan apa yang bisa menutup lubang hutangnya. Pelan-pelan hutang tidak sekadar menguras dompet, tapi menguras martabat.
Orang yang dikuasai manusia lain kondisinya berbeda tapi rasanya serupa. Bos yang bisa memecat kapan saja. Atasan yang suka mempermalukan di depan umum. Lingkungan yang menghukum siapapun yang berbeda pendapat. Lama-lama orang seperti ini tidak lagi tahu apa yang dia inginkan sendiri.
Kenapa dipasangkan? Karena hutang membuat kamu dikendalikan uang. Tekanan manusia membuat kamu dikendalikan orang. Dua-duanya mencabut satu kemerdekaan yang sama, yakni kebebasan untuk berkata tidak, kebebasan untuk memilih yang benar.
Bagi yang terjebak hutang, ini tips Rasulullah ﷺ:
مَن أخَذَ أموالَ النّاسِ يُريدُ أداءَها أدّى اللهُ عنه، ومَن أخَذَ يُريدُ إتلافَها أتلَفَه اللهُ.
"Barangsiapa mengambil harta orang lain (berhutang) dengan niat melunasinya, Allah akan tunaikan untuknya. Barang siapa mengambilnya dengan niat merusak (tidak berniat melunasi), Allah akan membinasakannya." (HR. al-Bukhari, no. 2387, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Hadits ini bukan sekadar soal niat, tapi soal kesadaran. Islam tidak melarang hutang, tapi Islam sangat serius memastikan bahwa hutang diambil dengan tanggung jawab penuh. Karena hutang yang tidak dilunasi bukan hanya soal dunia, ia terbawa sampai akhirat.
Bahkan Rasulullah ﷺ pernah menunda menshalatkan jenazah seseorang yang masih punya hutang, sampai ada sahabat yang bersedia menanggungnya. Ini diriwayatkan dalam HR. al-Bukhari, no. 2289, dari Salamah bin al-Akwa' ra.)
Untuk soal tekanan manusia dan pentingnya harga diri, Rasulullah ﷺ menguatkan dengan sabdanya:
"Sungguh, jika kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung, ia pergi pagi dalam keadaan lapar dan kembali sore dalam keadaan kenyang." (HR. at-Tirmidzi, no. 2344)
Orang yang benar-benar tawakal kepada Allah tidak akan mudah dikendalikan manusia lain, karena sumber rezekinya, sumber rasa amannya, tidak dia gantungkan pada siapapun selain Allah.
Maka, jaga dompetmu dari hutang yang tidak perlu, dan jaga harga dirimu dari manusia yang tidak layak menentukan hidupmu.
والله يتولى الجميع برعايته
Komentar
Posting Komentar