Hadits Ke 34 KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

 Keutamaan Bulan Ramadhan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللهُ ﷿ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan puasa di dalamnya kepada kalian. Di bulan ini dibukakan pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu neraka Jahannam, dan dibelenggu setan-setan yang jahat. Bagi Allah di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang terhalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia telah terhalangi (dari kebaikan yang besar)." (HR. Imam an-Nasa'i 2427)

Sanad: Bisyr bin Hilal → Abdul Warits → Ayyub → Abu Qilabah → Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu → Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. 

Penjelasan Hadits

Kabar Gembira Kedatangan Ramadhan (أَتَاكُمْ رَمَضَانُ)

Hadits ini dibuka dengan ungkapan yang sangat indah: "Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan." Kata "atakum" (telah datang kepada kalian) mengandung makna kabar gembira dan suka cita. Seakan-akan Rasulullah ﷺ sedang mengumumkan berita bahagia kepada para sahabat tentang kedatangan tamu agung yang sangat mulia.

Para salafush shalih sangat bergembira ketika mendengar kabar datangnya bulan Ramadhan. Mereka berdoa enam bulan sebelum Ramadhan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan mulia ini, kemudian berdoa enam bulan setelahnya agar Allah menerima amal mereka di bulan Ramadhan. Ini menunjukkan betapa tingginya penghargaan mereka terhadap bulan yang diberkahi ini.

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata, "Di antara doa mereka (salaf): 

اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ، وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانَ، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا

“Ya Allah, panjangkan umurku dan jaga aku sampai Ramadhan, jadikan Ramadhan benar-benar bermakna bagiku, dan terimalah seluruh amal Ramadhanku." 

Bulan yang Penuh Berkah (شَهْرٌ مُبَارَكٌ)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebut Ramadhan sebagai "syahrun mubarak" (bulan yang penuh berkah). Kata "mubarak" berasal dari kata "barakah" yang artinya adalah kebaikan yang banyak dan terus bertambah. Berkah di bulan Ramadhan meliputi berbagai aspek kehidupan.

Di antara wujud keberkahan Ramadhan adalah dilipatgandakannya pahala, dikabulkannya doa, turunnya rahmat dan maghfirah, serta dimudahkannya jalan menuju surga. Setiap detik yang dilewati di bulan Ramadhan dengan ketaatan adalah investasi yang sangat menguntungkan untuk kehidupan akhirat.

Allah Ta'ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil)." (QS. al-Baqarah: 185)

Turunnya al-Quran di bulan Ramadhan adalah bentuk keberkahan terbesar yang diberikan Allah kepada bulan ini. Al-Quran adalah sumber segala kebaikan dan petunjuk, sehingga bulan yang dipilih untuk turunnya al-Quran tentu memiliki kedudukan yang sangat istimewa.

Kewajiban Puasa Ramadhan (فَرَضَ اللهُ ﷿ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ)

Hadits ini menegaskan bahwa puasa Ramadhan adalah kewajiban yang ditetapkan langsung oleh Allah Ta'ala. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya ibadah puasa dalam Islam. Tidak semua syariat ditetapkan menjadi rukun. Dan puasa Ramadhan adalah salah satu dari lima rukun Islam yang tidak boleh ditinggalkan tanpa udzur syar'i. 

Rasulullah ﷺ bersabda:

 بُنِيَ الإسْلامُ على خَمْسٍ: شَهادَةِ أنْ لا إلَهَ إلّا اللَّهُ وأنَّ مُحَمَّدًا رَسولُ اللَّهِ، وإقامِ الصَّلاةِ، وإيتاءِ الزَّكاةِ، والحَجِّ، وصَوْمِ رَمَضانَ.

"Islam dibangun di atas lima perkara: kesaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan." (HR. al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)

Orang yang mengingkari kewajiban puasa Ramadhan atau sengaja meninggalkannya tanpa udzur termasuk perbuatan dosa besar. Ibnu Hazm rahimahullah dalam kitab al-Muhalla (juz 6, hal. 157) menukil ijma' (kesepakatan) ulama bahwa orang yang dengan sengaja tidak berpuasa di bulan Ramadhan tanpa udzur syar'i telah melakukan kemaksiatan yang sangat besar.

Dibukanya Pintu-Pintu Langit (تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ)

Ungkapan "terbukanya pintu-pintu langit" dalam hadits ini memiliki makna yang sangat luas. Para ulama memberikan beberapa penjelasan tentang maksud ungkapan ini:

Pertama, terbukanya pintu-pintu rahmat dan maghfirah. Di bulan Ramadhan, Allah mencurahkan rahmat-Nya yang sangat luas kepada hamba-hamba-Nya yang berpuasa. Pintu taubat dibuka lebar-lebar, kesempatan untuk mendapatkan ampunan sangat besar.

Kedua, terbukanya pintu-pintu surga. Dalam riwayat Imam al-Bukhari (no. 1899) dan Muslim (no. 1079) disebutkan: "Apabila masuk bulan Ramadhan, maka pintu-pintu surga dibuka." Ini menandakan bahwa jalan menuju surga menjadi lebih mudah di bulan Ramadhan. Setiap amal shalih yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi bekal untuk memasuki surga kelak.

Ketiga, dikabulkannya doa. Pintu langit yang terbuka juga bermakna mudahnya doa-doa yang dipanjatkan untuk sampai ke hadapan Allah dan dikabulkan. Allah Ta'ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku." (QS. al-Baqarah: 186)

Abi Ihya’ menyebut Ayat ini sengaja disisipkan di antara ayat-ayat tentang puasa Ramadhan sebagai isyarat bahwa bulan Ramadhan adalah waktu yang sangat istimewa untuk berdoa. 

Ditutupnya Pintu-Pintu Neraka Jahannam (وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ)

Berkebalikan dengan terbukanya pintu langit, di bulan Ramadhan justru pintu-pintu neraka Jahannam ditutup rapat. Ini adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman yang memanfaatkan bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Tertutupnya pintu neraka memiliki beberapa makna:

Pertama, berkurangnya perbuatan maksiat. Dengan dibelenggunya setan dan tertutupnya pintu neraka, orang-orang beriman menjadi lebih mudah untuk menjauhi perbuatan maksiat. Suasana ruhiyah yang tercipta di bulan Ramadhan membuat hati lebih tenang dan hati lebih dekat kepada Allah.

Kedua, jauhnya ancaman siksa. Bagi orang yang berpuasa dengan benar, Allah menjauhkan mereka dari api neraka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

"Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah, kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun perjalanan." (HR. al-Bukhari no. 2840 dan Muslim no. 1153)

Jika puasa sehari saja di jalan Allah bisa menjauhkan seseorang dari neraka sejauh tujuh puluh tahun, bagaimana dengan puasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan yang penuh berkah?

Dibelenggunya Setan-Setan yang Jahat (وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ)

Hadits ini menyebutkan bahwa di bulan Ramadhan, "maradatush shayathin" (setan-setan yang jahat) dibelenggu. Kata "maradah" adalah bentuk jamak dari "marid" yang berarti setan yang sangat jahat dan durhaka.

Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah dalam Shahih Ibnu Khuzaimah (juz 3, hal. 188) menjelaskan bahwa yang dibelenggu adalah setan-setan yang paling kuat dan paling jahat, bukan seluruh setan. Ini menjelaskan mengapa di bulan Ramadhan masih ada orang yang berbuat maksiat, karena tidak semua setan dibelenggu, hanya yang paling kuat saja. Abi Ihya lebih rinci menjelaskan bahwa musuh manusia ada tiga, yaitu setan (musuh nyata), nafsu (yang paling besar), dan teman seperti setan. Jika setan dibelenggu, maka masih ada dua musuh lagi bagi manusia. itulah sebabnya meski ramadhan, masih ada yang bermaksiat. Namun dengan dibelenggunya setan-setan yang paling jahat, pengaruh bisikan setan menjadi jauh berkurang.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (juz 4, hal. 116-117) memberikan beberapa hikmah dibelenggunya setan:

Pertama, untuk menguji manusia. Dengan berkurangnya pengaruh setan, akan terlihat siapa yang benar-benar bertakwa dan siapa yang mengikuti hawa nafsunya sendiri.

Kedua, untuk memberikan kemudahan kepada orang-orang yang ingin bertaubat. Dengan dibelenggunya setan, godaan untuk berbuat maksiat menjadi berkurang, sehingga orang yang ingin memperbaiki diri memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berubah.

Ketiga, sebagai bentuk kemuliaan bulan Ramadhan. Allah memuliakan bulan ini dengan mengikat setan-setan yang selalu berusaha menyesatkan manusia.

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

"Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia seperti mengalirnya darah." (HR. al-Bukhari no. 2038 dan Muslim no. 2174)

Namun dengan berpuasa, aliran darah menjadi lemah, sehingga pengaruh setan pun melemah. Inilah salah satu hikmah puasa dari sisi kesehatan ruh.

Lailatul Qadar: Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan (1 malam > 83,4 tahun) (فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ)

Puncak keistimewaan bulan Ramadhan adalah adanya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Hadits ini menegaskan bahwa Allah memiliki satu malam istimewa di bulan Ramadhan yang nilainya melebihi seribu bulan.

Seribu bulan setara dengan 83 tahun lebih 4 bulan. Ini berarti beribadah di satu malam Lailatul Qadar lebih baik daripada beribadah selama lebih dari 83 tahun di malam-malam biasa. Subhanallah! Ini adalah anugerah yang sangat besar dari Allah kepada umat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Allah Ta'ala berfirman dalam surah al-Qadr:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan." (QS. al-Qadr: 1-3)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَن قامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمانًا واحْتِسابًا، غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang melaksanakan qiyam pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. al-Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760)

Lailatul Qadar disembunyikan oleh Allah di antara malam-malam di bulan Ramadhan, terutama di sepuluh malam terakhir, khususnya di malam-malam ganjil. Hikmahnya adalah agar kaum muslimin bersungguh-sungguh dalam beribadah di seluruh bulan Ramadhan, bukan hanya di satu malam saja.

Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku katakan?" Beliau menjawab:

قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

"Ucapkanlah: 'Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai maaf, maka maafkanlah aku.'" (HR. Tirmidzi no. 3513)

Peringatan Keras: (مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ)

Hadits ini ditutup dengan peringatan yang sangat keras: "Barangsiapa yang terhalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia telah terhalangi (dari kebaikan yang besar)." Ungkapan ini menunjukkan betapa ruginya orang yang tidak memanfaatkan bulan Ramadhan dengan baik.

Orang yang terhalang dari kebaikan Ramadhan adalah orang yang paling merugi. Bagaimana tidak, Allah telah membukakan pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka, membelenggu setan-setan, dan menyediakan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Jika dalam kondisi yang sangat kondusif ini seseorang masih tidak bisa berbuat kebaikan, kapan lagi dia akan bisa? Artinya berarti selama Ramadhan dia benar-benar kurang ajar. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَانْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

"Celakalah orang yang memasuki bulan Ramadhan lalu berlalu sebelum ia diampuni (dosanya)." (HR. Tirmidzi no. 3545)

Bahkan Jibril 'alaihissalam berkata "Amin" ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendo'akan celaka bagi orang yang mendapati Ramadhan namun tidak mendapatkan ampunan. Ini menunjukkan betapa seriusnya persoalan ini.

Semoga Ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. 


والله يتولى الجميع برعايته



Komentar

Postingan populer dari blog ini

HADITS KE 11 SEBAIK-BAIK KALIAN ADALAH YANG PALING BAIK AKHLAKNYA

Hadits Kedua Puluh Tujuh : Doa, Senjata Orang Beriman

PRINSIP RIZQI